Rabu, 02 Februari 2011

BERBURU KEMENANGAN

Hingar bingar pemilukada Majene yang akan digelar pada tanggal 12 Mei 2011 telah menjelma menjadi bahan diskusi publik yang mengemuka akhir-akhir ini. Mulai dari cafe mewah hingga warung-warung “kentaki” (kentara kakinya) yang banyak dipinggir jalan hampir menjadikan isu pemilukada sebagai wacana paling gres.
Namun dari sekian pembicaraan yang sempat masuk di kuping saya, hal yang paling memiriskan saya adalah berbagai alasan yang terlontar dari mulut mereka tentang arah dukungan pada calon-calon tertentu. Alasan klasik yang paling mendominasi tak lain berbicara pada persoalan uang. Kekayaan para calon menjadi bahan kampanye paling populer bagi mereka. Kekayaan para calon membangkitkan semangat mereka memilih calon tertentu dengan harapan pada hajatan lima tahunan tersebut mereka akan meraup rupiah sebanyak mungkin.
Yang tak kalah hangat pula adalah siapa calon yang sanggup mendatangkan artis ibukota paling populer saat ini. Kalau kemarin Calon Incumbent sempat mendatangkan Nurdin KDI dan Siti KDI yang tak lain adalah artis berdarah Mandar, maka diisukan bahwa salah satu calon lain akan mendatangkan artis yang lebih top semisal Rhoma Irama ataupun Ridho Rhoma. Bisa jadi kemudian akan ada calon yang mewacanakan untuk mendatangkan Julia Perez atau Dewi Perssik misalnya. Bukan mustahil, selain karena tak mau dianggap minim biaya, para calon tersebut tentu tidak akan mempertaruhkan gengsi mereka. Kalau memang merasa mampu membayar rakyat, tentu membayar untuk mendatangkan artis ibukota juga menjadi hal kecil.
Masalahnya kemudian, rakyat menjadi terbius dan kemudian menjadi bisu. Tak ada lagi nalar kritis dalam memilih pemimpin yang paling sejati dan diharapkan. Semua tergantung pada seberapa besar mereka mampu meyakinkan konstituen bahwa mereka memiliki pundi-pundi uang yang masih tersimpan di brankas untuk hari H. Wajah-wajah lugu rakyat dibiarkan melongo seperti anjing dengan lidah menjulur menunggu para tuannya melemparkan tulang padanya. Sementara si anjing tak tahu bahwa tulang tersebut dipungut dari tempat sampah atau dari mana.
Yang lebih memiriskan lagi, dalam pandangan kasat mata saya pada diskusi-diskusi warung tersebut, menemukan fakta bahwa justru kebanyakan yang tua-tua ini memberi contoh buruk pada generasi muda. Mereka yang tua-tua, doyan kopi ,rokok, judi, puber kesepuluh, perut gendut atau kurus kerempeng, malas kerja rajin nongkrong, mempertontonkan kepada generasi muda kemampuan mereka beretorika yang didapat secara otodidak untuk tidak perlu pusing dengan pemilukada. Ungkapan mereka “siapa kasi uang, itu yang kita pilih” menjadi virus yang menyebar sangat cepat. Upaya-upaya “imunisasi” yang dilakukan KPU malah menjadi mandul dan kalah pamor.
Kalau begini jadinya…jangan berharap ada pemimpin yang akan memajukan Majene jika tak mampu menghilangkan ketergantungan masyarakat yang sudah akut tersebut…..

0 komentar:

Posting Komentar